Isnin, 6 September 2010

AYAH

ADUHAI AYAH


Aku adalah anak perempuan tunggal di dalam keluargaku. Ibuku adalah seorang wanita yang sangat menjaga disiplin keluarga sedangkan ayahku berperangai sebaliknya. Bahkan boleh dikatakan bahwa ayah di bawah telunjuk ibu. Boleh dikatakan ibulah yang lebih mengatur segala-galanya dalam keluarga. Namun, walaupun ibu tersangat keras, apabila berada di luar rumah aku termasuk di dalam golongan gadis lincah dan sering tukar-tukar pasangan, tanpa pengetahuan ibuku. Tapi suatu saat, pada ketika aku belajar di tingkatan empat, ibuku pergi mengunjungi nenek yang sakit di kampung. Dia akan tinggal di sana selama 2 minggu. Hatiku bersorak. Aku boleh bebas di rumah. Tak akan ada yang memaksa-maksa untuk belajar. Aku juga bebas pulang sampai petang. Ayahku pula biasanya akan pulang pada waktu malam

Pulang sekolah, aku mengajak kawanku, Anton, ke rumah. Aku sudah beberapa kali mengadakan hubungan kelamin dengannya. Tetapi hubungan tersebut tidak pernah betul-betul nikmat. Selalu dilakukan buru-buru sehingga aku tidak pernah berasa puncak nekmat. Aku selalu tertanya-tanya macam mana rasanya kalau berada di puncak nekmat.

Singkat cerita, aku dan Anton sudah berada di ruang tengah. Kami merasa bebas. Jam masih menunjukkan angka 3:00 sedangkan ayah selalu pulang pukul enam lewat. So, cukup waktu untuk memuaskan berahi. Kami duduk di sofa. Anton dengan segera melumat bibirku. Kurasakan hangatnya bibirnya. "Ah.." kurangkul tanganku ke lehernya. Ciumannya semakin dalam. Kini lidahnya yang mempermainkan lidahku. Tangannya pun mulai bermain di kedua bukitku. Aku benar-benar terangsang. Aku sudah bisa merasakan bahwa kemaluanku mulai basah. Segera kujulurkan tanganku ke perut bawahnya. Aku merasakan bahwa daerah itu sudah bengkak dan keras. Kucoba membuka reitsleting celananya tapi agak susah. Dengan segera Anton membukakannya untukku. Bagai tak ingin membuang waktu, secara bersamaan, aku pun membuka kemeja sekolahku sekaligus coliku tapi tanpa mengalihkan perhatianku pada Anton. Kulihat segera sesudah seluar dalam Anton lepas, senjatanya sudah tegang, siap untuk berperang.

Kami berpelukan lagi. Kali ini, tanganku bebas memegang burungnya. Tidak begitu besar, tapi cukup keras dan berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus sejenak. Kedua telurnya yang dibungkus kulit yang sangat lembut, sungguh menimbulkan sensasi tersendiri saat kuraba dengan lembut. Penisnya kemerah-merahan, dengan kepala seperti topi baja. Di ujungnya berlubang. Kukuakkan lubang kecil itu, lalu kujulurkan ujung lidahku ke dalam. Anton melenguh. Expresi wajahnya membuatku semakin bergairah. "Ah.." kumasukkan saja batang itu ke mulutku.

Anton melepaskan seluar dalamku lalu mempermainkan kemaluanku dengan jarinya. Terasa sentuhan jarinya diantara kedua bibir kemaluanku. Dikilik-kiliknya klitorisku. Aku makin bernafsu. Kuhisap batangnya. Kujilati kepala penisnya, sambil tanganku mempermainkan telurnya dengan lembut. Kadang kugigit kulit telurnya dengan lembut.



"Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih bebas!"

Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menggendongku dan membaringkanku di lantai berkarpet tebal dan bersih. Dibukanya skirt kelabuku, yang tinggal satu-satunya melekat di tubuhku, demikian juga kemejanya. Sekarang aku dan dia betul-betul bugil. Aku makin menyukai suasana ini. Kutunggu, apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ternyata Anton naik ke atas tubuhku dengan posisi terbalik, 69. Dikangkangkannya pahaku. Selanjutnya yang kurasakan adalah jilatan-jilatan lidahnya yang panas di permukaan vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku dihisapnya, sesekali lidahnya ditenggelamkannya ke lubangku. Sementara batangnya tetap kuhisap. Aku sudah tidak tahan lagi.

"Ton, masukkan saja batang kau tu. Aku dah tak tahan ni."

"Sebentar lagi Nitt."

"Ah.. aku dah tak tahan lagi, aku mau batangmu, please!"

Anton memutar haluan. Digosok-gosokannya kepala penisnya sebentar lalu.. "Blesss.." batang itu masuk dengan mantap. Tak perlu diolesi ludah untuk memperlancar, vaginaku sudah banjir. Amboy, nikmat sekali. Disodok-sodok, maju mundur.. maju mundur. Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-goyang juga pantatku. Kadang kakiku kulingkarkan ke pinggangnya.

Tiba-tiba, "Ah.. aku nak keluar.." Dicabutnya batangnya dan spermanya berceceran di atas perutku.

"Shit! Sama saja, aku belum puas, dia sudah muntah," rungutku dalam hati.Tapi aku berpikir, "Ah, tak mengapa, babak kedua pasti ada." Dugaanku meleset. Anton berpakaian.

"Nit, sorry ya.. aku baru ingat. Hari ini rupanya aku ada latihan pancaragam, sudah lewat nih," dia berpakaian dengan buru-buru.

Aku betul-betul kecewa. "Tak guna punya member. Dasar pentingkan diri, Cuma nak puaskan nafsunya saja." Aku betul-betul kecewa dan berjanji dalam hati tak akan mau main lagi dengannya. Karena kesal, kubiarkan dia pergi. Aku berbaring saja di sofa, tanpa mempedulikan kepergiannya, bahkan aku berbaring dengan membelakanginya, wajahku kuarahkan ke sandaran sofa.

Kemudian aku mendengar suara langkah mendekat. "Kenapalah si kurang ajar ini datang lagi," pikirku. Aku terus buat endah tak endah. Kurasakan pundakku dicolek. Aku tetap buat tak endah.

"Nita!"

Oh.. ini bukan suara Anton. Aku bagai disambar petir. Aku masih telanjang bulat. "Ayah!" aku sungguh-sungguh ketakutan, malu, cemas, pokoknya hampir mati.

"Dasar bedebah, rupanya kamu sudah biasa main dengan jantan ya. Jangan bohong. Ayah lihat kamu bersetubuh dengan lelaki itu. Biar kamu tahu, ini mesti kena beritahu mama kau."



Aku makin ketakutan, kupeluk lutut ayahku, "Yah.. jangan Yah, Nita sedia dihukum apa saja, asal jangan diberitahu sama orang lain terutama Mama," aku menangis memohon.

Tiba-tiba, ayah mengangkatku ke sofa. Kulihat wajahnya makin melembut. "Niat, Ayah tahu kamu tidak puaskan?. Waktu Ayah masuk tadi, Ayah dengar suara-suara desahan aneh, jadi Ayah jalan pelan-pelan saja, dan Ayah lihat dari balik pintu, Nita tengah main dengan lelaki itu, jadi Ayah intip aja sampai Nita habis main."

Aku diam aja tak menyahut.

"Nita, kalau kamu mau Ayah berikan kepuasan, maka rahasia Nita tak akan terbongkar."



"Betul?"

Ayah tak menjawab, tapi mulutnya sudah mencium susuku. Dijilatinya permukaan payudaraku, digigitnya pelan-pelan putingku. Sementara tangannya sudah menjelajahi bagian bawahku yang masih basah. Ayah segera membuka bajunya sehingga ia turut berbogel. Aku terkejut. Kulihat balak ayahku jauh lebih besar, jauh lebih panjang dari balak si Anton. Tak tahu aku berapa ukurannya, yang jelas panjang, besar, mendongak, keras, hitam, berurat, berbulu lebat. Bahkan antara pusat dan kemaluannya juga berbulu halus. Beda benar dengan Anton. Melihat ini saja aku sudah bergetar.

Kemudian Aku didudukkannya di sofa. Pahaku dibukanya lebar-lebar. Dia berlutut di hadapanku lalu kepalanya berada diantara kedua pangkal pahaku. Tiba-tiba lidah hangat sudah menggesek ke dalam kemaluanku. Aduh, lidah ayahku menjilati kemaluanku. Dia menjilat lebih lihai, lebih lembut. Jilatannya dari bawah ke atas berulang-ulang. Kadang hanya klitorisku saja yang dijilatinya. Dihisapinya, bahkan digigit-gigit kecil. Dijilati lagi. Dijilati lagi. "Oh.. oh.. sedapnya ayah…., Yah di situ Yah, sedapnya ayah… sedapnya," tanpa sadar, aku tidak malu lagi mendesah jorok begitu di hadapan ayahku. Ayah "memakan" kemaluanku cukup lama. Tiba-tiba, aku merasakan nikmat yang sangat dahsyat, yang tak pernah kumiliki sebelumnya.

"Oh.. begini rupanya orgasme, nikmatnya," aku tiba-tiba merasa lemas. Ayah mungkin tahu kalau aku sudah orgasme, maka dihentikannya menjilat lubang kewanitaanku.

Kini dia berdiri, tepat di hadapan hidungku, penisnya yang besar itu menengadah. Dengan posisi, ayah berdiri dan aku duduk di sofa, kumasukkan batang ayahku ke mulutku. Kuhisap, kujilat dan kugigit pelan. Kusedot dan kuhisap lagi. Begitu kulakukan berulang-ulang. Ayah ikut menggoyangkan pantatnya, sehingga batangnya terkadang masuk terlalu dalam, sehingga bisa kurasakan kepala penisnya menyentuh kerongkonganku. Aku kembali sangat bergairah merasakan keras dan besarnya batang itu di dalam mulutku. Aku ingin segera ayah memasuki lubangku, tapi aku malu memintanya. Lubangku sudah betul-betul ingin "menelan" batang yang besar dan panjang.

Tiba-tiba ayah menyuruhku berdiri."Mau main berdiri ni," pikirku.



Rupanya tidak. Ayah berbaring di sofa dan mengangkatku ke atasnya. "Masukkan Nita!" ujar Ayah.

Kuraih batang itu lalu kuarahkan ke vaginaku. Ah.. sedikit sakit dan agak susah masuknya kerana batang ayah ku ini sangat besar dan panjang, tapi ayah menyodokkan pantatnya ke depan.

"Aduh…. pelan-pelan, Ayah ayah punya besar sangat."

Lalu berhenti sejenak, tapi batang itu sudah tenggelam setengah akibat sodokan ayah tadi. Kugoyang perlahan. Dengan perlahan pula batang itu semakin masuk dan semakin masuk. Ajaibnya semakin masuk, semakin nikmat. Lubang kemaluanku betul-betul terasa penuh. Nikmat rasanya. Karena dikuasai nafsu, rasa maluku sudah hilang. Kusetubuhi ayahku dengan rakus. Ekspresi ayahku makin menambah nafsuku. Remasan tangan ayahku di kedua payudaraku semakin menimbulkan rasa nikmat. Kogoyang pantatku dengan irama keras dan cepat.

Tiba-tiba, aku mau orgasme, tapi ayah berkata, "Stop! Kita ganti posisi. Nita nungging dulu."

"Mau apa ini?" pikirku.

Tiba-tiba kurasakan gesekan kepala zakar di permukaan lubangku kemudian.. "Bless.." batang itu masuk ke lubangku. Yang begini belum pernah kurasakan. Anton tak pernah memperlakukanku begini, begitu juga Muklis, lelaki yang mengambil perawanku. Tapi yang begini ini rasanya selangit sedapnya. Tak terkatakan nikmatnya. Hujaman-hujaman batang itu terasa menggesek seluruh liang kewanitaanku, bahkan hantaman kepala penis itupun terasa membentur dasar vaginaku, yang membuatku merasa semakin nikmat. Kurasakan sodokan ayah makin keras dan makin cepat. Perasaan yang kudapat pun makin lama makin nikmat. Makin nikmat, makin nikmat, dan makin nikmat.

Tiba-tiba, "Auh..oh.. oh..! sedapnya ayah… sedapnya… sedapnya sedapnyaaaaaa…….." kenikmatan itu meladak. Aku orgasme untuk yang kedua kalinya.

Hentakan ayah makin cepat saja, tiba-tiba kudengar desahan panjangnya. Seiring dengan itu dicabutnya balaknyanya dari lubang kemaluanku. Dengan gerakan cepat, ayah sudah berada di depanku. Disodorkannya batangnya ke mulutku. Dengan cepat kutangkap, kukulum dan kumaju-mundurkan mulutku dengan cepat. Tiba-tiba kurasakan semburan sperma panas di dalam mulutku. Aku tak peduli. Terus kuhisap dan kuhisap. Sebagian sperma tertelan olehku, sebagian lagi kukeluarkan, lalu jatuh dan meleleh memenuhi daguku. Ayah memelukku dan menciumku,

"Nita, selepas ni bila Mama tak ada kita main lagi ya." Aku tak menjawab. Sebagai jawaban, aku menggelayut dalam pelukan ayahku. Yang jelas aku pasti mau. Dengan pacarku aku tak pernah merasakan orgasme. Dengan ayah, sekali main orgasme dua kali. Siapa yang mau menolak?

“Ayah… Nita mau lagi….” Bisikku sambil mengelus zakar ayahku yang mulai kendur itu. Mataku merenung mata ayahku. Ia tersenyum.



“Nita usap batang ayah tu. Nanti bila sudah keras kita boleh main lagi.”

“Kita main banyak kali ye ayah…?”

“Boleh…. Yang penting Nita mahu dan Nita tahan..”

“Nita sayang ayah….” Kataku tanpa segan silu dan kemudian aku membongkok kearah kelengkang ayahku. Aku rapatkan mulutku kearah zakar ayah. Kemudian aku jilat seluruh permukaan zakar itu dan aku rasakan zakar ayah mula bangkit kembali. Apabila zakar itu telah keras, aku masuklkan zakar ayah kedalam mulutku. Kuhisap dan ku sedut dalam-dalam.

Ayah pula meraba-raba badanku untuk membangkitkan syahwatku. Dan apabila aku sudah tidak dapat mengawal kehendak syahwat maka aku merengek tanpa segan silu agar ayah memulakan permainan. Permainan kali kedua ini berlangsung dalam jangkamasa yang agak lama. Kalau tidak silap aku mencapai orgasme sebanyak lima kali. Dan selepas lima kali aku sudah dapat menahan rasa geli yang amat sangat. Tetapi ayah masih gagah. Disaat-saat aku hampir menolak tubuh ayah kerana tidak tahan rasa geli yang amat sangat, ia segera membuat tekanan yang kuat. Kali ini ia memancutkan air maninya di dalam kemaluanku. Nekmatnya tidak terhingga. Aku menggelepar keseronokan. Satu keadaan yang tidak pernah aku alami bersama-sama teman sekolahku. Ayah… kau sungguh hebat, bisik hatiku.

Malam itu aku dan ayah tidak tidur sehingga menjelang dinihari. Aku sungguh puas dengan permainan ayahku itu. Besoknya kami kesiangan. Aku ponteng sekolah. Ayah pula ambil cuti rehat. Sepanjang hari itu aku tidak lepas dari pelukan ayahku. Kami sama-sama berbogel sepanjang malam dan siang. Keadaan ini berlarutan sehingga ibu pulang.

Selepas itu asal ada kesempatan, kami melakukannya lagi. Kesempatan memang sentiasa ada. Dan ayah pula sudah mula kerap ambil cuti rehat apabila ibu tiada di rumah. Kalau dulu ayah selalu pulang lewat sekarang ayah selalu pulang ikut waktu pejabat. Aku juga turut berubah. Kalau dulu aku tidak suka duduk di rumah, kini aku sentiasa menanti ayah di bilik tidurku untuk memberi perkhidmatan yang jarang-jarang diberi oleh mama. Walau pun mama ada di rumah, ayah ku tetap pintar mencari waktu untuk memenuhi kehendakku dan kehendaknya. Aku tidak pernah menolak apabila ayah berkehendakkan aku. Begitu juga dengan ayah. Dia juga tidak akan menolak apabila aku berkehendakkannya.

Aku sentiasa memastikan diriku sentiasa cantik, kemas dan bersih supaya ayah benar-benar puas dengan perkhidmatan yang aku berikan. Ayah telah memberikan aku kepuasan, maka sudah sewajarnya aku membalas kepuasan yang diberikan. Aku pula diajar cara untuk ponteng sekolah apabila ibu bertugas di luar kawasan. Ayah selalu membantu dengan memaklumkan kepada guru bahawa aku selalu sakit walau pun aku sebenarnya tidak sakit.

Apabila di rumah mama masih selalu marah, dengan nada tinggi, berusaha mengajarkan disiplin. Biasanya aku diam saja, pura-pura patuh. Padahal suaminya, yang menjadi ayahku itu, selalu aku ajak bergelut diatas ranjang dan menekmati pemberian zakarnya yang menyeronokkan itu. Beginilah kisah permainanku dengan ayahku yang pendiam, tetapi sangat pintar di atas ranjang. Sehingga kini tiada siapa pu yang tahu perbuatan ku dengan ayahku.

1 ulasan:

  1. Sekarang kita berada di zaman alai, semua berubah menjadi alai atau berlebihan, tapi sebenarnya dari dulu juga yang namanya anak muda itu pasti tingkahnya sangat alai, apalagi dalam hal merayu sang pujaan hati.

    Misalnya :

    “Sayang, banyak gadis cantik di sana, tapi kamu yang paling cantik ..”.

    Hmmmmmmmmm, ini harus diteliti, apa benar begitu?

    “Sayang, aku selalu ingin berada di hatimu ..”.
    “Cintaku, kamu permatahatiku ..”.

    co : “Sayang, habis ini kita jalan-jalan yuk ..”.
    ce : “Kemana ..?”.
    co : “Menjalani sisa hidup kita ..”.

    hehehehe :D

    BalasPadam